Mengubah Jeruji Menjadi Santri: Rutan Baturaja Sulap Masa Pidana Jadi Fase Pesantren Kilat

Februari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-02-12T08:03:09Z

Baturaja – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja kembali mempertegas komitmennya dalam menjalankan fungsi pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Tidak hanya fokus pada pengamanan, pihak Rutan kini secara intensif menggelar program Tahsinul Qur’an sebagai bentuk pembinaan kepribadian yang substansial. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa waktu yang dihabiskan di dalam Rutan menjadi periode perubahan positif yang nyata bagi setiap individu.

Kegiatan pembinaan rohani yang berfokus pada perbaikan bacaan Al-Qur'an ini dilaksanakan pada Kamis pagi, 12 Februari 2026. Bertempat di Masjid Baitul Ghafur yang berada di dalam lingkungan Rutan Baturaja, suasana religius tampak kental terasa. Puluhan warga binaan berkumpul dengan khidmat, menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh para pembimbing.
Program strategis ini merupakan hasil kolaborasi erat antara Rutan Kelas IIB Baturaja dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Sinergi lintas instansi ini sengaja dibangun untuk menghadirkan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya. Kehadiran para penyuluh agama dari Kemenag OKU memastikan bahwa materi yang disampaikan berkualitas dan sesuai dengan standar keilmuan agama yang tepat.

Secara teknis, program Tahsinul Qur’an ini memiliki target yang lebih mendalam daripada sekadar memberantas buta aksara hijaiyah. Para peserta diajak untuk memperbaiki teknik membaca secara detail, mulai dari ketepatan hukum tajwid hingga makhrajul huruf (tempat keluarnya huruf). Hal ini bertujuan agar setiap lantunan ayat suci yang dibacakan oleh warga binaan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang benar dan indah.
Kepala Rutan Baturaja, Fitri Yady, dalam keterangannya menekankan bahwa pembinaan kerohanian adalah pilar fundamental dalam proses reintegrasi sosial. Menurutnya, hukuman penjara tidak boleh hanya dipandang sebagai sanksi fisik, melainkan harus menjadi momentum refleksi diri. Tanpa bekal spiritual yang kuat, dikhawatirkan warga binaan akan kesulitan saat mencoba beradaptasi kembali dengan nilai-nilai sosial di masyarakat luar nantinya.

Lebih lanjut, Fitri Yady memaparkan visinya untuk menjadikan masa pidana ini sebagai fase "pesantren kilat" bagi para penghuni Rutan. Beliau berharap para warga binaan bisa memulai perubahan besar dari hal yang paling dasar, yakni memperbaiki lisan melalui kalam Ilahi. Dengan cara ini, diharapkan hati mereka akan semakin lembut dan terbuka untuk menerima perubahan perilaku yang lebih baik selama menjalani sisa masa tahanan.

Proses belajar-mengajar di Masjid Baitul Ghafur pun didesain dengan pola pendekatan yang sangat persuasif dan sabar oleh para penyuluh Kemenag. Tidak ada kesan kaku atau memaksa; suasana justru terbangun dengan sejuk sehingga para warga binaan merasa nyaman untuk bertanya dan mempraktikkan bacaan mereka. Kedekatan emosional antara guru dan murid inilah yang menjadi kunci keberhasilan penyerapan materi pembinaan.

Melalui program berkelanjutan ini, Rutan Baturaja berhasil membuktikan bahwa jeruji besi bukanlah penghalang bagi seseorang untuk bertransformasi menjadi pribadi yang religius. Program ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga pemasyarakatan berfungsi sebagai wadah perbaikan diri. Harapannya, saat bebas nanti, para warga binaan tidak hanya membawa surat bebas, tetapi juga membawa karakter baru yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi lingkungan mereka.

Terkini