Baturaja, Di tengah guyuran hujan lebat yang membasahi aspal kota Baturaja pada Kamis (12/2),2026 para petugas parkir tetap berdiri kokoh menjalankan tugasnya. Mengenakan rompi oranye, mereka tampak sigap mengatur barisan kendaraan meski tubuh basah kuyup. Bagi mereka, cuaca ekstrem bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang harus ditaklukkan demi membawa pulang rezeki bagi anak dan istri yang menanti di rumah.
Fenomena perjuangan ini menjadi potret nyata dedikasi pekerja sektor informal di jalanan. Tanpa perlindungan memadai dari terik matahari maupun hujan badai, para juru parkir ini tetap setia di posnya sejak pagi Soreh, Mereka tidak mengenal kata lelah karena beban tanggung jawab sebagai kepala keluarga jauh lebih besar daripada rasa dingin yang menusuk tulang.
Alasan utama di balik ketangguhan ini adalah tanggung jawab moral untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Setiap koin dan lembaran rupiah yang mereka kumpulkan sangat berarti untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan dapur. Motivasi inilah yang membuat mereka tetap bertahan di pinggir jalan, meskipun kondisi kesehatan sering kali terancam akibat cuaca yang tidak menentu.
Namun, realita di lapangan sering kali tidak seindah semangat yang mereka miliki. Penghasilan harian mereka sangat bergantung pada keramaian kendaraan yang datang, yang sering kali tidak bisa diprediksi. Ada kalanya jalanan sepi, atau pemilik kendaraan enggan membayar, sehingga pendapatan yang didapat menjadi sangat minim dan jauh dari kata cukup
Kondisi semakin sulit ketika mereka dihadapkan pada kewajiban menyetor sejumlah uang kepada pengelola atau koordinator parkir. Tidak jarang, pendapatan seharian hanya habis untuk menutupi biaya setoran tersebut, menyisakan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali untuk dibawa pulang. "Rezeki macan," begitu mereka menyebutnya, karena jumlahnya yang tidak pernah bisa ditentukan secara pasti.
Meskipun sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, peran mereka sangat penting dalam menjaga ketertiban lalu lintas dan keamanan kendaraan. Di balik peluit yang mereka tiup, ada doa dan harapan agar setiap kendaraan yang mereka rapikan menjadi pembuka jalan rezeki. Mereka menghadapi berbagai karakter pemilik kendaraan dengan sabar, demi menghindari konflik yang bisa menghambat pekerjaan.
Kehidupan juru parkir ini adalah simbol nyata dari pengorbanan tanpa tanda jasa. Di rumah, ada keluarga yang selalu menunggu dengan cemas sekaligus penuh harap. Setiap kepulangan mereka, terlepas dari berapa pun jumlah uang yang dibawa, selalu disambut dengan rasa syukur karena sang pahlawan keluarga telah kembali dalam keadaan selamat.
Melalui kisah ini, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai profesi juru parkir dengan memberikan apresiasi sekecil apa pun. Sebuah senyuman atau ucapan terima kasih dari pemilik kendaraan setidaknya bisa sedikit menghangatkan hati mereka di tengah dinginnya air hujan. Perjuangan mereka adalah bukti bahwa harga diri seorang lelaki terletak pada kerja keras dan kejujurannya dalam mencari nafkah.