Cahaya di Balik Jeruji: Saat Rutan Baturaja Menjelma Jadi Pesantren Bagi Warga Binaan

Maret 26, 2026 WIB Last Updated 2026-03-26T21:54:53Z
BATURAJA – Suasana di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja, Sumatera Selatan, mengalami perubahan drastis dalam beberapa waktu terakhir. Jika biasanya lorong-lorong sel identik dengan kesunyian atau obrolan kosong, kini sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur’an dan diskusi kitab kuning menjadi "musik" harian yang menghiasi setiap sudut selasar. Transformasi religius ini memuncak pada Kamis (26/03/2026), saat program pembinaan kerohanian dilaporkan berjalan dengan sangat intensif.

Program revolusioner ini bertajuk Pembinaan Kerohanian Berbasis Pesantren. Langkah ini sengaja digulirkan oleh pihak manajemen Rutan Baturaja sebagai upaya untuk memanusiakan warga binaan melalui pendekatan spiritual. Fokus utamanya adalah membasuh masa lalu yang kelam dengan siraman ilmu agama yang terukur, terstruktur, dan berjenjang, sehingga masa hukuman tidak lagi dianggap sebagai sekadar pembuangan waktu, melainkan fase pembelajaran.
Pusat dari seluruh aktivitas ini berada di bawah naungan kubah Masjid Baitul Ghafur. Masjid yang terletak di dalam kompleks rutan tersebut kini beralih fungsi setiap harinya menjadi ruang kelas yang hidup dan dinamis. Warga binaan tidak lagi sekadar duduk pasif mendengarkan ceramah satu arah yang membosankan, melainkan terlibat aktif dalam kurikulum keagamaan yang telah disusun sedemikian rupa oleh pihak pengelola rutan.

Dalam pelaksanaannya, para warga binaan dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil atau halaqah berdasarkan tingkat pemahaman agama mereka. Pembagian ini bertujuan agar proses transfer ilmu berjalan efektif, mulai dari kelas pemberantasan buta aksara Al-Qur'an bagi pemula hingga pendalaman kitab-kitab klasik bagi mereka yang sudah lanjut. Sistem berjenjang ini memastikan setiap individu mendapatkan porsi pelajaran yang sesuai dengan kapasitasnya.
Hal yang paling membedakan program ini dengan pembinaan rutin biasa adalah penekanan pada aspek moralitas melalui kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim. Warga binaan tidak hanya diajarkan cara beribadah secara vertikal kepada Tuhan, tetapi juga diajarkan etika (adab) antara murid dan guru, cara menghargai sesama, menjaga kebersihan lingkungan masjid, hingga kedisiplinan tinggi dalam melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah.

Salah satu warga binaan yang mengikuti program ini mengaku mengalami perubahan batin yang signifikan. Ia mengisahkan bagaimana dulunya ia melangkah ke rutan dengan berat hati dan penuh dendam karena hukuman yang diterimanya. Namun kini, setiap kali azan berkumandang, ia merasa kakinya justru ingin cepat-cepat melangkah ke Masjid Baitul Ghafur karena menemukan ketenangan jiwa yang menurutnya tidak bisa dibeli dengan materi apa pun.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran tenaga pengajar mumpuni yang berasal dari kalangan internal rutan yang memiliki latar belakang pendidikan agama kuat. Keterlibatan petugas sebagai pengajar menciptakan kedekatan emosional yang positif dengan warga binaan. Pihak Rutan Baturaja berharap, ketika masa hukuman berakhir, para warga binaan ini tidak hanya membawa surat bebas, tetapi juga membawa "ijazah moral" yang kuat sebagai modal untuk kembali diterima dan bermanfaat di tengah masyarakat.

Melalui inisiatif di Masjid Baitul Ghafur ini, Rutan Kelas IIB Baturaja telah membuktikan bahwa ruang fisik yang sempit dan jeruji besi yang kokoh bukanlah penghalang bagi luasnya pintu taubat. Dari balik tembok tinggi tersebut, kini tengah lahir generasi baru yang siap melangkah keluar dengan kepala tegak. Mereka bukan lagi penyandang status narapidana semata, melainkan pribadi yang hatinya telah diterangi oleh cahaya iman dan ilmu.

Terkini