Banjir Klasik di Sukaraya: Menahun Tanpa Solusi Permanen, Belasan KK di Baturaja Timur Kembali Terendam

Maret 28, 2026 WIB Last Updated 2026-03-28T22:32:16Z

BATURAJA – Intensitas hujan yang tinggi kembali mengungkap masalah klasik infrastruktur di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, sekira pukul 20.00 WIB, wilayah Taman Sari RT 03 RW 03, Kelurahan Sukaraya, Kecamatan Baturaja Timur, dilaporkan masih terendam banjir dengan ketinggian air yang cukup mengkhawatirkan, yakni berkisar antara 50 hingga 100 sentimeter.

Kondisi ini memicu respons cepat dari aparat penegak hukum setempat. Jajaran Polsek Baturaja Timur yang dipimpin langsung oleh Kanit Reskrim Ipda Andi Hendrianto, didampingi KASPKT Regu 3 Aiptu Agus Setiawan, serta sejumlah personel piket fungsi, turun langsung ke lokasi untuk melakukan monitoring perkembangan situasi. Langkah ini diambil guna memastikan keselamatan warga serta memetakan dampak kerugian yang ditimbulkan oleh genangan air.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, dampak banjir ini dirasakan cukup signifikan oleh masyarakat setempat. Setidaknya terdapat 12 Kepala Keluarga (KK) yang menempati 8 unit rumah warga terpaksa harus bergelut dengan masuknya air ke dalam kediaman mereka. Ketinggian air yang mencapai pinggang orang dewasa ini membuat perabotan rumah tangga sulit diselamatkan dan mengganggu waktu istirahat warga di malam hari.
Tidak hanya merendam pemukiman penduduk, banjir juga melumpuhkan fasilitas pendidikan dan mengganggu akses pelayanan publik. Area kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Al-Ma’arif terpantau ikut tergenang, yang berpotensi menghambat kegiatan akademik jika air tak kunjung surut. Selain itu, aktivitas masyarakat di sekitar area eks Kantor KUA Baturaja Timur juga mengalami hambatan serius akibat akses jalan yang tertutup genangan air.

Pemerintah daerah melalui BPBD OKU sebenarnya telah berupaya melakukan penanganan sejak pagi hingga sore hari. Dua unit mesin penyedot air dikerahkan ke lokasi untuk membuang genangan. Namun, upaya tersebut tampaknya tidak memberikan hasil yang signifikan. Luapan air yang terlalu besar membuat proses penyedotan menjadi sia-sia, sehingga saat pemantauan malam hari dilakukan, pihak BPBD memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas penyedotan tersebut.

Akar permasalahan dari musibah tahunan ini diduga kuat berasal dari buruknya sistem drainase di kawasan tersebut. Tim monitoring menemukan bahwa saluran air yang berada di sepanjang jalur jalan nasional lintas tengah Sumatera, tepatnya di sekitar bengkel mobil Enggano, memiliki kapasitas yang sangat kecil. Ukuran parit yang sempit ini tidak mampu menampung debit air kiriman saat hujan deras melanda, sehingga air meluap ke badan jalan dan pemukiman.
Ironisnya, kondisi banjir di Taman Sari ini bukanlah kejadian pertama, melainkan masalah menahun yang terus berulang tanpa adanya solusi permanen dari pihak terkait. Selama bertahun-tahun, penanganan yang diberikan hanya bersifat darurat dan sementara, seperti penyedotan air secara manual saat banjir sudah terjadi. Hingga kini, belum ada perbaikan atau normalisasi drainase secara menyeluruh di jalur nasional tersebut untuk memutus mata rantai banjir.

Meskipun situasi di lapangan masih digenangi air dengan ketinggian yang cukup tinggi, personel Polsek Baturaja Timur melaporkan bahwa keadaan di lokasi tetap aman dan kondusif. Warga tetap waspada mengantisipasi kemungkinan kenaikan air jika hujan kembali turun. Pihak kepolisian pun terus mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap potensi arus listrik dan gangguan keamanan lainnya di tengah situasi bencana.

Terkini