Hadiri Pemakaman Istri Jenderal Hoegeng, Kapolri: Pesan Eyang Meri Adalah Amanah bagi Seluruh Anggota Polri

Februari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-02-04T13:07:31Z

JAKARTA – Suasana khidmat menyelimuti Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giritama, Tonjong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, saat keluarga besar Kepolisian Negara Republik Indonesia melepas kepergian Meriyati Hoegeng. Almarhumah, yang akrab disapa Eyang Meri, merupakan istri dari tokoh ikonik kepolisian, almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Prosesi pemakaman ini dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas dedikasi almarhumah dalam mendampingi sang legenda polisi jujur semasa hidupnya.

Kehadiran Jenderal Sigit di pemakaman tersebut bukan sekadar urusan protokoler, melainkan bentuk apresiasi terhadap sosok yang dianggap sebagai ibu bagi institusi Polri. Di bawah langit Bogor, Kapolri mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas sosok yang selama ini menjadi saksi hidup sejarah perjalanan Polri. Eyang Meri dipandang sebagai figur yang tidak pernah lelah mengingatkan jajaran kepolisian untuk tetap tegak lurus pada jalur kebenaran dan kesederhanaan, mewarisi prinsip hidup suaminya yang sangat melegenda.

Usai prosesi pemakaman berlangsung, Kapolri menyampaikan kepada awak media bahwa almarhumah secara konsisten menitipkan pesan moral yang sangat kuat. Pesan-pesan tersebut disampaikan Eyang Meri dalam setiap kesempatan pertemuan dengan para pimpinan Polri. Bagi Jenderal Sigit, nasihat tersebut bukanlah sekadar pemanis kata, melainkan sebuah nilai keteladanan konkret yang harus dijadikan pegangan utama bagi setiap personel dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Nilai-nilai yang ditekankan oleh Eyang Meri mencakup tiga pilar utama: menjaga integritas, menjunjung tinggi nilai kebajikan, serta konsistensi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Di tengah dinamika tugas kepolisian modern yang kian kompleks dan penuh tantangan, Kapolri menilai bahwa nilai-nilai tradisional yang diwariskan oleh keluarga Hoegeng justru menjadi semakin relevan. Integritas dipandang sebagai harga mati yang tidak boleh ditawar demi menjaga kepercayaan publik.

Ada momen mengharukan yang terjadi saat Kapolri melayat ke rumah duka sebelum pemangkaman. Pihak keluarga memperdengarkan sebuah rekaman suara asli dari Eyang Meri yang berisi pesan khusus ditujukan bagi institusi Polri. Mendengar suara almarhumah yang penuh wibawa namun lembut tersebut, Jenderal Sigit mengaku merasa tersentuh sekaligus merasa mendapatkan suntikan semangat baru. Rekaman itu dianggap sebagai wasiat spiritual yang memperkuat tekad moral seluruh jajaran kepolisian.

Kapolri menegaskan bahwa pesan yang ditinggalkan oleh Eyang Meri adalah sebuah amanah suci yang harus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Ia menekankan bahwa titipan tersebut tidak hanya ditujukan untuk level pimpinan atau perwira tinggi saja, melainkan harus meresap hingga ke sanubari anggota Polri yang bertugas di pelosok daerah. Menjaga marwah institusi adalah tugas kolektif yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab sesuai dengan pesan terakhir almarhumah.

Lebih lanjut, Jenderal Sigit melihat bahwa pesan-pesan Eyang Meri memiliki makna filosofis yang sangat dalam dan sejalan dengan tugas pokok Polri dalam memelihara keamanan serta ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Dengan meneladani sikap hidup keluarga Hoegeng yang bersahaja namun tegas dalam prinsip, diharapkan anggota Polri dapat lebih empati dan humanis dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan, sehingga citra kepolisian di mata rakyat terus membaik.

Sebagai penutup keterangannya, Kapolri berkomitmen bahwa warisan moral dan api semangat yang ditinggalkan oleh Eyang Meri akan terus dihidupkan di lingkungan Korps Bhayangkara. Baginya, sosok Eyang Meri akan tetap hidup melalui nilai-nilai kejujuran yang dipraktikkan oleh setiap polisi. "Warisan moral dan keteladanan tersebut akan terus menjadi api semangat bagi keluarga besar Polri untuk menjalankan amanah dan menjaga institusi," pungkas Jenderal Sigit dengan nada tegas namun penuh haru.

Terkini