Pemerintah Desa Terusan, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), secara resmi menyalurkan bantuan sembako kepada ratusan warga yang terdampak polusi debu pada Jumat pagi, 30 Januari 2026. Kegiatan yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB ini dipusatkan di kantor desa sebagai langkah respons cepat terhadap keluhan masyarakat mengenai kondisi lingkungan di sekitar wilayah operasional pembangkit listrik. Bantuan ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan kepada lingkungan sekitar.
Penyaluran bantuan ini bersumber sepenuhnya dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) tahun 2026 milik PT Bakti Nugraha Yuda Energy (BNYE) yang mengelola PLTU Baturaja. Inisiatif ini diambil sebagai bentuk kepedulian pihak swasta dalam membantu meringankan beban hidup masyarakat di wilayah Ring 1 Desa Terusan. Kehadiran perwakilan perusahaan dan jajaran pemerintah desa memastikan bahwa distribusi logistik berjalan tertib dan tepat sasaran kepada mereka yang paling terdampak.
Sebanyak 755 paket sembako telah disiapkan dan dibagikan secara merata kepada setiap kepala keluarga di area terdampak. Paket bantuan tersebut berisi kebutuhan pokok esensial, antara lain beras, gula, minyak goreng, dan susu yang dikemas rapi dalam kantong plastik. Fokus pembagian ditujukan kepada warga yang bermukim di zona terdekat perusahaan, mengingat mereka adalah pihak yang paling merasakan dampak langsung dari sebaran debu akibat gangguan teknis di operasional pembangkit.
Latar belakang pemberian bantuan ini dipicu oleh adanya kendala operasional atau trouble teknis pada fasilitas produksi PT BNYE PLTU Baturaja dalam beberapa waktu terakhir. Gangguan tersebut menyebabkan meningkatnya intensitas debu yang keluar dari area industri dan menyebar ke pemukiman warga Desa Terusan. Oleh karena itu, bantuan ini dimaksudkan bukan hanya sebagai bantuan sosial rutin, melainkan sebagai bentuk kompensasi awal atas ketidaknyamanan lingkungan yang dirasakan penduduk.
Humas PT BNYE, Roni Lubay, S.H., menegaskan bahwa penyerahan dana CSR melalui pemerintah desa ini adalah simbol perhatian perusahaan terhadap kesejahteraan warga. "Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban masyarakat yang terdampak debu PLTU. Ini adalah komitmen kami untuk terus menjalin hubungan baik dengan lingkungan sekitar," ujar Roni dalam sambutannya. Pihak perusahaan mengklaim akan terus berupaya meminimalisir dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas operasional mereka.
Kepala Desa Terusan, Tugino, S.T., menyambut positif langkah perusahaan, namun ia juga memberikan catatan penting terkait keberlanjutan program. Tugino berharap agar PT BNYE dapat menjalankan program CSR serupa minimal tiga kali dalam setahun, terutama saat dampak polusi debu meningkat. Ia juga menginstruksikan kepada seluruh perangkat desa, mulai dari RT, RW, Kadus, hingga BPD, untuk aktif menampung aspirasi dan keluhan warga agar bisa dikoordinasikan secara kolektif kepada pihak perusahaan.
Meskipun bantuan sembako telah diterima, suara kritis muncul dari salah satu warga bernama Yeni, yang mewakili keresahan banyak penduduk lainnya. Menurutnya, bantuan pangan saja tidak cukup untuk mengganti kerugian kesehatan jangka panjang yang mereka alami. Yeni mendesak pihak PLTU untuk memberikan kompensasi biaya kesehatan secara nyata, mengingat kesehatan merupakan aset paling berharga yang terancam akibat paparan polusi debu hasil pembakaran batubara tersebut
Sebagai penutup, masyarakat Desa Terusan mendesak PT BNYE PLTU Baturaja untuk memberikan perhatian yang lebih serius, melampaui sekadar pemberian sembako dan pemeriksaan kesehatan gratis. Warga juga menuntut Dinas Lingkungan Hidup serta instansi terkait di Kabupaten OKU untuk turun tangan melakukan pengawasan ketat terhadap dampak lingkungan dari hasil produksi PLTU tersebut. Hal ini dilakukan agar ke depannya terdapat solusi jangka panjang yang mampu menjamin kualitas udara dan kesehatan masyarakat Desa Terusan.
(A)