BATURAJA – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) resmi memperkuat komitmen mereka dalam mereformasi mental warga binaan. Sinergi strategis ini diwujudkan melalui peluncuran dan optimalisasi program pembinaan kepribadian berbasis spiritual, yakni kegiatan Tahsinul Qur'an. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemenuhan hak-hak imateriel para warga binaan agar mereka mendapatkan bimbingan mental yang layak dan berkualitas selama masa penahanan.
Program yang berfokus pada perbaikan kualitas bacaan kitab suci ini dipusatkan langsung di dalam lingkungan Rutan Kelas IIB Baturaja, Kabupaten OKU, Sumatra Selatan. Dipilihnya rutan sebagai lokasi utama bertujuan agar atmosfer religius dapat terbangun secara alami di dalam sel tahanan. Dengan demikian, kawasan yang semula dipersepsikan kaku dan penuh keterbatasan, kini perlahan bertransformasi menjadi lingkungan yang kondusif untuk menimba ilmu agama serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Pelaksanaan kegiatan yang membawa angin segar bagi warga binaan ini dilaporkan berjalan dengan khidmat pada Kamis (21/05/2026). Momentum ini dimanfaatkan secara optimal oleh pihak Rutan dan Kemenag OKU sebagai titik balik untuk mempercepat program deradikalisasi moral dan penguatan akhlak. Pemilihan waktu pelaksanaan yang rutin ini juga disesuaikan dengan agenda pembinaan agar tidak berbenturan dengan aktivitas pembinaan kemandirian atau jadwal kunjungan lainnya.
Kepala Rutan Kelas IIB Baturaja, Fitri Yady, menegaskan bahwa esensi dari program Tahsinul Qur'an ini dirancang khusus untuk memperbaiki, menyempurnakan, sekaligus memperlancar teknik membaca Al-Qur'an para warga binaan. Lebih dari sekadar pemenuhan rutinitas, kegiatan ini juga diproyeksikan sebagai fondasi teologis yang sangat penting bagi mereka. Pihak rutan ingin memastikan bahwa masa pidana yang sedang dijalani tidak menjadi waktu yang terbuang sia-sia, melainkan menjadi fase kontemplasi untuk mempertebal keimanan.
Menurut Fitri Yady, program keagamaan semacam ini merupakan salah satu pilar paling krusial dalam sistem pemasyarakatan modern. Ia menjelaskan bahwa proses pembinaan kepribadian tidak boleh hanya bertumpu pada pelatihan keterampilan fisik dan kemandirian ekonomi semata. Jauh di lubuk hati para warga binaan, terdapat aspek psikologis dan spiritual yang membutuhkan penyembuhan batin (inner healing) serta penguatan moral agar mereka tidak lagi terjerumus ke dalam lubang hitam kriminalitas di masa depan.
Kerja sama intensif dengan Kemenag OKU ini adalah langkah nyata dan konkret dari kami untuk memastikan seluruh warga binaan mendapatkan hak bimbingan keagamaan yang bermutu tinggi. Melalui kegiatan Tahsinul Qur'an yang terstruktur ini, kami menaruh harapan besar agar mereka tidak hanya sekadar bisa mengeja atau membaca Al-Qur'an secara umum, tetapi benar-benar mampu melafalkannya dengan kaidah tajwid yang baik, fasih, dan benar," ujar Fitri Yady dalam keterangannya.
Mengenai mekanisme pelaksanaannya, pihak Kemenag OKU secara berkala dan terjadwal mengirimkan para penyuluh agama fungsional serta instruktur ahli langsung ke dalam Rutan Baturaja. Metode pembelajaran yang diterapkan pun dikemas secara interaktif, persuasif, dan sangat humanis. Pendekatan personal ini sengaja dipilih agar para warga binaan merasa diayomi, nyaman, serta tumbuh motivasi internalnya untuk terus memperbaiki kualitas bacaan mereka, tanpa perlu merasa berkecil hati atas keterbatasan atau latar belakang kemampuan awal yang mereka miliki.
Melalui integrasi program pembinaan yang komprehensif dan berkelanjutan ini, Rutan Kelas IIB Baturaja optimistis dapat melahirkan output yang signifikan bagi lingkungan masyarakat luas. Pihak instansi berharap proses penempaan spiritual ini mampu mencetak pribadi-pribadi baru yang jauh lebih religius, santun, dan matang secara emosional. Target akhirnya adalah saat hari kebebasan itu tiba, para mantan warga binaan ini telah siap sepenuhnya untuk kembali berintegrasi dan memberikan kontribusi positif di tengah-tengah masyarakat.