BATURAJA – Bencana banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) pada Senin pagi (30/03/2026). Intensitas air yang meningkat sejak dini hari menyebabkan pemukiman warga di Kelurahan Sukaraya dan Desa Air Paoh, Kecamatan Baturaja Timur, terendam genangan air yang cukup tinggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga mengingat debit air yang terus merangkak naik di tengah aktivitas pagi masyarakat.
Berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, ketinggian air di titik terdampak rata-rata telah mencapai 100 sentimeter atau setinggi pinggang orang dewasa. Wilayah yang mengalami dampak terparah meliputi area Taman Sari RT 01 dan 03 RW 03 Kelurahan Sukaraya, serta kawasan RT 03 Dusun 7 di Desa Air Paoh. Sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) yang menempati 19 rumah kini terjebak dalam kondisi waspada karena air telah memasuki area ruang utama tempat tinggal mereka.
Dampak banjir kali ini tidak hanya melumpuhkan hunian warga, tetapi juga merambah ke sektor pendidikan dan layanan publik. Fasilitas pendidikan seperti Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Al-Ma’arif dan gedung yang sebelumnya digunakan sebagai Kantor KUA Baturaja Timur ikut terendam. Aktivitas belajar mengajar dan layanan masyarakat di sekitar lokasi tersebut otomatis terhenti total akibat genangan air yang menutup akses utama bangunan.
Daftar warga yang terdampak di Lorong Tangkil RT 01 Kelurahan Sukaraya mencakup belasan kepala keluarga, di antaranya adalah keluarga Bapak Sofian Erlis, Nasolati, Maulana, Apriadi Kusuma, dan Burhanudin. Selain itu, rumah milik Laelani, Meirizal, Darno, Arman, Listriani, Rohana, serta Indra Wangsa juga dilaporkan terendam cukup parah. Di sisi lain, warga RT 03 seperti Bapak Suharmasto juga harus berjibaku menyelamatkan perabotan rumah tangga dari terjangan air.
Kondisi serupa terjadi di Jalan Dr. Moh. Hatta, Desa Air Paoh, di mana tujuh kepala keluarga menjadi korban terdampak. Nama-nama seperti Komarudin, Johan, Dody, Yunizar, Ujang, Merdi, dan Wawan tercatat dalam daftar warga yang rumahnya dimasuki air. Tingginya elevasi air di wilayah ini membuat mobilitas warga lumpuh total, terutama bagi anak-anak dan lansia yang memerlukan penanganan khusus untuk evakuasi mandiri.
Hingga pukul 08.30 WIB, situasi dilaporkan semakin mengkhawatirkan karena debit air di depan eks kantor KUA justru mengalami kenaikan sekitar 20 cm. Kenaikan ini diduga akibat drainase yang tidak mampu lagi menampung kiriman air dari dataran yang lebih tinggi. Jika hujan kembali turun atau kiriman air belum surut, diprediksi wilayah terdampak akan semakin meluas ke rukun tetangga di sekitarnya.
Pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Baturaja Timur telah turun ke lokasi untuk melakukan monitoring dan pengamanan. Berdasarkan laporan petugas, air kini sudah mulai meluap dan menggenangi badan Jalan Lintas Tengah Sumatera, tepatnya di samping bengkel mobil Enggano. Hal ini menjadi ancaman serius bagi kelancaran arus lalu lintas antarprovinsi, mengingat jalan tersebut merupakan jalur urat nadi transportasi logistik di Pulau Sumatera.
Namun, di tengah kondisi darurat ini, warga mengeluhkan lambatnya respons dari otoritas terkait. Hingga berita ini diturunkan pada pukul 08.30 WIB, belum terlihat adanya pergerakan dari pemerintah daerah maupun dinas terkait untuk melakukan tindakan teknis seperti penyedotan air menggunakan mesin pompa. Warga sangat berharap pemerintah segera turun tangan guna menurunkan debit air dan mencegah kerugian material yang lebih besar bagi masyarakat terdampak.