Cegah Penularan di Hunian Padat, Rutan Baturaja Gunakan Metode TCM Deteksi Dini TBC Tahanan Baru"

Februari 02, 2026 WIB Last Updated 2026-02-02T10:32:14Z
.
.BATURAJA – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja kembali mempertegas komitmennya dalam menjaga standar kesehatan lingkungan hunian. Pada Senin (02/02/2026), pihak Rutan melaksanakan kegiatan skrining kesehatan rutin yang difokuskan pada deteksi dini penyakit Tuberkulosis (TBC). Langkah ini diambil sebagai bagian dari protokol tetap untuk memastikan bahwa setiap individu yang masuk ke dalam sistem pemasyarakatan tidak membawa risiko kesehatan bagi warga binaan lainnya

Kegiatan yang berlangsung di area poliklinik Rutan Baturaja ini menyasar seluruh tahanan baru yang baru saja melintasi pintu gerbang administratif. Skrining ini menjadi sangat krusial mengingat karakteristik lingkungan Rutan yang memiliki tingkat kepadatan hunian tinggi. Dengan melakukan pemeriksaan sejak dini, pihak Rutan berupaya menciptakan "filter" kesehatan guna mencegah terjadinya wabah penyakit menular di dalam blok hunian.

Pelaksanaan skrining ini tidak dilakukan sendirian, melainkan melalui sinergi yang solid antara tim medis internal Rutan Baturaja dengan tenaga kesehatan dari Puskesmas Sekarjaya. Kolaborasi lintas instansi ini merupakan bentuk nyata dari penerapan Good Corporate Governance di bidang kesehatan pemasyarakatan. Tim medis dari Puskesmas Sekarjaya membawa peralatan dan keahlian khusus untuk memastikan proses pemeriksaan berjalan sesuai dengan standar operasional prosedur kesehatan nasional.
Secara teknis, proses skrining dilakukan dengan metode yang sangat selektif dan akurat. Petugas medis melakukan pengambilan sampel sputum atau dahak dari para tahanan baru di bawah pengawasan ketat. Prosedur pengambilan sampel ini dilakukan dengan memperhatikan aspek sanitasi dan privasi, guna memastikan kenyamanan tahanan sekaligus keamanan petugas yang bertugas di lapangan.

Sampel yang telah dikumpulkan kemudian diuji menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM). Penggunaan teknologi TCM ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan metode mikroskopis konvensional, karena TCM mampu mendeteksi keberadaan bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan tingkat akurasi mencapai hampir 100 persen dalam waktu yang jauh lebih singkat. Hal ini memungkinkan pihak Rutan untuk mengambil tindakan medis secara cepat jika ditemukan indikasi positif.

Kepala Rutan Baturaja, Fitri Yady, menjelaskan bahwa kebijakan ini adalah langkah preventif wajib yang tidak bisa ditawar. Beliau menegaskan bahwa deteksi dini adalah kunci utama dalam mengelola kesehatan di lingkungan tertutup. "Kami memandang skrining ini sebagai pintu gerbang perlindungan. Kami ingin memastikan bahwa setiap warga binaan yang masuk benar-benar dalam kondisi sehat agar tidak menjadi sumber penularan bagi yang lain," tegas Fitri Yady dalam keterangannya.

Lebih lanjut, pihak Rutan juga telah menyiapkan protokol penanganan lanjutan (kontinjensi) apabila hasil TCM menunjukkan adanya tahanan yang terinfeksi TBC. Langkah-langkah tersebut mencakup penempatan di ruang isolasi medis khusus untuk mencegah kontak fisik, hingga koordinasi pengobatan intensif selama enam bulan ke depan bersama Puskesmas Sekarjaya. Semua biaya pengobatan dan perawatan sepenuhnya dijamin sebagai bagian dari hak kesehatan warga binaan.

Melalui kegiatan rutin yang dilaksanakan secara disiplin ini, Rutan Baturaja berharap dapat mempertahankan status lingkungan yang sehat dan kondusif. Langkah proaktif ini tidak hanya melindungi para warga binaan, tetapi juga memberikan rasa aman bagi petugas yang berinteraksi langsung setiap hari. Sinergi antara Rutan Baturaja dan Puskesmas Sekarjaya ini pun diharapkan dapat terus berlanjut sebagai model percontohan pengawasan kesehatan di lembaga pemasyarakatan lainnya.

Terkini