Perkuat Mental Personel Jelang Operasi Ketupat Musi 2026, Polda Sumsel Gelar Pelatihan Psychological First Aid

Maret 05, 2026 WIB Last Updated 2026-03-06T03:53:52Z
PALEMBANG – Kepolisian Daerah  lSumatera Selatan (Polda Sumsel) mengambilangkah proaktif dalam menjamin kesiapan mental anggotanya menjelang tugas berat pengamanan arus mudik Lebaran. Melalui Bagian Psikologi Biro SDM, Polda Sumsel menggelar pelatihan Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis bagi 113 personel dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Polri. Kegiatan strategis ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa setiap petugas tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga tangguh secara mental dalam menghadapi dinamika lapangan selama Operasi Ketupat Musi 2026

Pelatihan intensif ini dipusatkan di Lounge Ampera, Lantai 7 Gedung Presisi Mapolda Sumsel, pada Kamis (5/3/2026). Pemilihan lokasi ini memberikan suasana yang kondusif bagi para peserta untuk menyerap materi krusial mengenai kesehatan mental. Acara dipimpin langsung oleh Kabagpsi Ro SDM Polda Sumsel, AKBP Suparyono, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang didampingi oleh tim psikolog ahli dari internal Polda Sumsel untuk memberikan bimbingan teknis yang mendalam kepada seluruh peserta yang hadir.

Urgensi dari program ini adalah untuk membangun kapasitas konselor internal yang mampu memberikan dukungan psikologis cepat bagi rekan sejawat. Dalam operasi berskala besar seperti pengamanan mudik, personel sering kali terpapar tekanan mental tinggi, kelelahan hebat, hingga situasi traumatis di jalan raya. Dengan adanya kemampuan PFA, para konselor diharapkan dapat menjadi lini terdepan dalam mendeteksi gejala stres sedini mungkin dan memberikan intervensi awal agar stabilitas emosional personel tetap terjaga selama menjalankan tugas operasional yang melelahkan.

Metode pelatihan dirancang secara komprehensif dengan menggabungkan teori psikologi modern dan praktik lapangan yang aplikatif. Para peserta dibekali dengan teknik pemulihan psikologis mandiri melalui Brain Gym (senam otak), yang berfungsi untuk menyelaraskan fungsi otak dan meredakan ketegangan saraf dalam waktu singkat. Selain itu, sesi berbagi pengalaman (experience sharing) menjadi sorotan utama, di mana tim trauma healing dari wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat turut hadir untuk memberikan wawasan mengenai penanganan krisis mental berdasarkan kasus nyata di daerah mereka.

Tak hanya soal teknik lapangan, pelatihan ini juga memperkuat landasan regulasi dengan mensosialisasikan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 6 Tahun 2025. Peraturan terbaru ini merupakan payung hukum sekaligus komitmen institusi Polri dalam memperkuat sistem kesehatan mental di lingkungan kepolisian. Dengan pemahaman regulasi yang kuat, diharapkan program penguatan mental ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari kebijakan berkelanjutan untuk menciptakan kesejahteraan psikologis bagi seluruh anggota Polri dan PNS di lingkungan Polda Sumsel.

AKBP Suparyono menegaskan bahwa penguasaan kemampuan PFA adalah investasi jangka panjang bagi ketangguhan institusi Polri secara keseluruhan. Menurutnya, personel yang memiliki kesehatan psikologis yang prima akan mampu memberikan pelayanan yang jauh lebih profesional, sabar, dan humanis kepada masyarakat. Ketangguhan mental inilah yang akan menjadi pembeda saat petugas menghadapi situasi kritis di lapangan, di mana mereka dituntut untuk tetap tenang dan solutif meskipun berada di bawah tekanan arus mudik yang sangat padat.

Senada dengan hal tersebut, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., menambahkan bahwa langkah ini adalah pengejawantahan dari visi Polri yang Profesional, Modern, dan Terpercaya (Presisi). Beliau menekankan bahwa Polda Sumsel sangat peduli terhadap kesejahteraan mental anggotanya karena hal tersebut berkorelasi langsung dengan kualitas keamanan publik. "Anggota yang kuat secara mental akan mampu memberikan pelayanan terbaik dan perlindungan maksimal kepada masyarakat yang merayakan hari raya," tegasnya dalam pernyataan resmi kepada media.

Sebagai penutup, pelatihan PFA ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kerja yang saling mendukung di internal Polda Sumsel. Dengan adanya 113 personel yang kini memiliki kualifikasi sebagai konselor PFA, risiko gangguan mental akibat beban kerja selama Operasi Ketupat Musi 2026 dapat diminimalisir secara signifikan. Langkah preventif ini menjadi bukti nyata bahwa kesiapan aspek psikologis merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari keberhasilan operasi kepolisian dalam melayani masyarakat Indonesia pada musim mudik tahun ini.

Terkini