Geger! Warga Lubuk Baru OKU Temukan Pemilik Kebun Tewas Tertelungkup di Pinggir Sungai

April 28, 2026 WIB Last Updated 2026-04-28T09:38:41Z
OKU, SUMSEL – Warga Desa Lubuk Baru, Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) digemparkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki pada Selasa pagi, 28 April 2026. Korban yang diketahui bernama Fahrulian Situmorang (76), seorang wiraswasta asal Karang Sari, Desa Tanjung Baru, ditemukan sudah tidak bernyawa di area kebun karet miliknya sendiri dalam posisi tertelungkup.

Penemuan tragis ini bermula sekira pukul 07.00 WIB ketika seorang tukang sadap karet bernama Zarkoni bin Husni hendak memulai pekerjaannya. Saat tiba di lokasi, Zarkoni melihat sepeda motor milik majikannya tersebut sudah terparkir di pinggir jalan depan kebun. Tanpa rasa curiga, saksi langsung masuk ke dalam area kebun untuk menyadap karet seperti rutinitas biasanya, namun ia kemudian menyadari ada sesuatu yang tidak biasa di area belakang kebun.
Saat menyisir bagian belakang kebun yang berbatasan langsung dengan aliran anak sungai, Zarkoni terkejut melihat tubuh Fahrulian sudah tergeletak kaku di pinggir sungai. Berdasarkan posisi penemuannya, korban diduga kuat sedang melakukan aktivitas memancing di anak sungai tersebut sebelum akhirnya terjatuh dan meninggal dunia. Saksi yang panik segera melaporkan kejadian tersebut kepada perangkat desa dan pihak kepolisian setempat.

Mendapat laporan warga, tim gabungan yang terdiri dari Personel Polsek Sosoh Buay Rayap yang dipimpin langsung oleh Kapolsek IPTU Jauhari Effendy, S.I.Kom., Tim Inafis Polres OKU, hingga personel TNI dari Koramil Kota Baturaja segera meluncur ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Tim medis dari Puskesmas Penyandingan yang dipimpin oleh Yose Fahrizal juga turut hadir untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi jenazah pria lansia tersebut.
Setibanya di lokasi, Tim Inafis Polres OKU bersama personel Polsek langsung melakukan olah TKP secara intensif guna memastikan penyebab kematian korban. Berdasarkan pemeriksaan luar di lapangan, petugas tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan fisik atau bekas penganiayaan pada tubuh Fahrulian. Petugas memperkirakan bahwa korban telah meninggal dunia sekitar tiga hari yang lalu, bertepatan dengan kabar hilangnya korban yang sempat diketahui oleh pihak keluarga.

Pihak keluarga yang tiba di lokasi, termasuk anak-anak korban yaitu Nur Wahidah, Mestaulina, dan Parsolian, tampak sangat terpukul atas kejadian ini. Di hadapan petugas, keluarga menjelaskan bahwa Fahrulian memang memiliki riwayat penyakit darah tinggi yang cukup serius selama ini. Faktor usia dan kondisi kesehatan yang menurun diduga menjadi penyebab utama korban jatuh pingsan hingga mengembuskan napas terakhir saat sedang beraktivitas sendirian di kebun.
Atas dasar pertimbangan riwayat penyakit tersebut, pihak keluarga secara resmi menyatakan keberatan untuk dilakukan tindakan autopsi terhadap jenazah almarhum. Mereka telah mengikhlaskan kepergian Fahrulian sebagai musibah murni dan membuat surat pernyataan tidak akan menuntut pihak manapun di kemudian hari. Keputusan ini diambil agar jenazah bisa segera dibawa pulang dan dimakamkan secara layak oleh keluarga besar.

Sekira pukul 12.30 WIB, setelah seluruh rangkaian olah TKP selesai, tim gabungan mengevakuasi jenazah menuju Rumah Sakit Umum Baturaja Ibnu Sutowo untuk proses pembersihan. Usai disucikan di rumah sakit, jenazah langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka di Jalan Ratu Penghulu 3, Karang Sari. Rencananya, almarhum akan dikebumikan pada hari yang sama di pemakaman setempat dengan pengawalan dari pihak kepolisian dan perangkat desa.

Terkini