Ubah Masa Hukuman Jadi Ajang Taubat, Warga Binaan Rutan Baturaja Dididik Gaya Pesantren

September 10, 2026 WIB Last Updated 2026-09-10T14:30:53Z
BATURAJA – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja secara resmi mengintensifkan program pembinaan mental dan kerohanian bagi seluruh warga binaan pemasyarakatan. Langkah pembaharuan ini dijalankan dengan mengadopsi pola pendidikan berbasis pesantren guna menciptakan suasana pembinaan yang lebih humanis dan religius di dalam rutan.

Program pembinaan spiritual berbasis pesantren tersebut diselenggarakan secara menyeluruh pada Kamis, 10 September 2026. Momen ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat komitmen Rutan Baturaja untuk mengarahkan para warga binaan menuju proses pertaubatan dan perbaikan diri secara holistik selama masa pemidanaan.

Langkah transformatif ini diinisiasi langsung oleh jajaran manajemen Rutan Kelas IIB Baturaja bersama Tim Humas Rubaraja. Kebijakan diambil sebagai strategi konkret dalam merevolusi mental, memperbaiki krisis moral, serta membekali para penghuni rutan dengan pemahaman nilai-nilai agama yang mendalam dan berkelanjutan.
Seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran kerohanian dipusatkan di Masjid Baitul Ghafur yang berada di dalam area Rutan Baturaja. Fasilitas tempat ibadah ini dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana pembentukan karakter, tempat pendalaman ilmu, serta pusat kegiatan keagamaan para warga binaan.

Pelaksanaan program ini melibatkan partisipasi aktif para warga binaan yang secara rutin dan antusias mengikuti beragam materi pembelajaran keagamaan. Pembinaan mencakup seni membaca dan mendalami Al-Qur'an, pemahaman tata cara ibadah (fikih), hingga penanaman nilai-nilai akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari

Keberhasilan program ini terwujud berkat kolaborasi strategis antara pihak Rutan Baturaja dan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Melalui kesepakatan kerja sama resmi, para ustaz dan penyuluh dari Kemenag OKU hadir secara berkala untuk memberikan bimbingan spiritual, kajian keagamaan, serta motivasi hidup.
Metode pendekatan yang diterapkan oleh para penyuluh Kemenag OKU tidak sebatas penyampaian teori keagamaan belaka, melainkan menyasar aspek kejiwaan para warga binaan secara humanis. Mereka dibimbing untuk memosisikan masa pemidanaan sebagai momen perenungan, pertaubatan diri, dan sarana untuk mempererat hubungan dengan Sang Pencipta.

Melalui transformasi pembinaan gaya pesantren ini, Rutan Baturaja optimistis para warga binaan mampu mengubah perilaku secara berkelanjutan. Harapannya, ketika menyelesaikan masa hukuman dan dinyatakan bebas kelak, mereka siap kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang berakhlak mulia, mandiri, dan bertakwa.

Terkini