Gema Wahyu di Balik Jeruji: Sinergi Rutan Baturaja dan Kemenag OKU Cetak Generasi Pecinta Al-Qur’an

April 23, 2026 WIB Last Updated 2026-04-23T13:56:15Z
Suasana religius yang kental menyelimuti Masjid Baitul Ghafur di dalam kompleks Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja pada Kamis (23/04/2026). Puluhan warga binaan tampak berkumpul dengan penuh antusiasme untuk mengikuti program Tahsinul Al-Qur’an. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam rangkaian pembinaan kepribadian yang dirancang khusus untuk memperbaiki kualitas literasi kitab suci di kalangan narapidana.

Program ini terlaksana berkat sinergi strategis antara pihak Rutan Baturaja dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Ogan Komering Ulu (OKU). Kerja sama lintas instansi ini bertujuan untuk menghadirkan tenaga penyuluh profesional yang kompeten di bidangnya. Dengan kehadiran instruktur dari Kemenag, para warga binaan mendapatkan bimbingan yang terstruktur dan berkualitas layaknya belajar di lembaga pendidikan formal
Fokus utama dari kegiatan Tahsinul Al-Qur’an ini adalah memperbaiki teknik membaca para peserta dari tingkat dasar hingga mahir. Tidak sekadar melantunkan ayat, para instruktur menekankan pada ketepatan pelafalan huruf atau makhrajul huruf serta pemahaman mendalam mengenai hukum-hukum tajwid. Hal ini dilakukan agar setiap warga binaan mampu membaca Al-Qur’an secara tartil, benar, dan sesuai dengan kaidah ilmu qiraah yang berlaku.

Kepala Rutan Baturaja, Fitri Yady, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam upaya meningkatkan pembinaan kepribadian bagi para warga binaan. Menurutnya, pemasyarakatan bukan hanya soal menjalankan masa hukuman fisik, melainkan juga proses perbaikan kualitas batiniah. Melalui bimbingan rohani yang intensif, pihak Rutan berharap ada perubahan paradigma hidup yang signifikan dari para peserta program tersebut.

Alasan mendasar di balik program ini adalah keinginan kuat untuk menjadikan masa pidana sebagai momentum transformasi diri. Fitri Yady menyampaikan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah agar para warga binaan tidak hanya sekadar bisa membaca, tetapi juga mencintai Al-Qur'an. Dengan menanamkan nilai-nilai religius, kitab suci diharapkan dapat menjadi pedoman hidup dan kompas moral bagi mereka setelah menghirup udara bebas nantinya.
Dalam pelaksanaannya, metode pembelajaran dilakukan secara interaktif dan dua arah antara instruktur dan peserta. Perwakilan dari Kemenag OKU yang bertugas sebagai pelatih memberikan koreksi mendetail terhadap setiap bacaan warga binaan secara individual. Kedisiplinan tetap dijaga ketat selama proses belajar mengajar, namun suasana tetap cair sehingga para warga binaan merasa nyaman dan tidak sungkan untuk bertanya jika menemui kesulitan dalam pelafalan.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Baitul Ghafur telah bertransformasi fungsinya dari sekadar tempat ibadah salat fardu menjadi pusat pendidikan moral dan spiritual bagi warga binaan. Kegiatan rutin seperti Tahsin ini diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan mental yang kuat. Dengan bekal spiritual yang mumpuni, risiko para warga binaan untuk kembali terjerumus ke dalam tindak pidana di masa depan dapat ditekan seminimal mungkin.

Penutupan kegiatan pada hari itu memberikan pesan yang mendalam bahwa jeruji besi bukanlah penghalang bagi seseorang untuk memperbaiki kualitas diri di hadapan Sang Pencipta. Kolaborasi antara Rutan Baturaja dan Kemenag OKU ini menjadi bukti nyata bahwa negara tetap hadir memberikan hak pendidikan agama bagi setiap warga negara, tanpa terkecuali bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di balik jeruji besi.

Terkini