Baturaja, 11 Maret 2026 – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan 1447 H, suasana di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja tampak berbeda dari hari biasanya. Di bawah komando Kepala Rutan, Fitri Yady, institusi ini semakin mengintensifkan pendekatan humanis melalui program unggulan bertajuk "Sapa Kasih". Langkah ini diambil sebagai bentuk perhatian nyata negara terhadap kondisi fisik maupun psikis para warga binaan yang sedang menjalankan ibadah puasa di tengah masa pidana.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (11/03/2026) ini menyasar seluruh blok hunian tanpa terkecuali. Fitri Yady turun langsung ke lapangan, menyusuri lorong-lorong blok untuk menyapa satu per satu penghuni kamar. Tidak ada pembatas yang kaku; pimpinan rutan tersebut bahkan tak segan duduk bersila bersama warga binaan, menciptakan suasana dialog yang hangat dan mencairkan ketegangan yang biasanya menyelimuti lingkungan penjara.
Fokus utama dari aksi terjun langsung ini adalah memastikan kesehatan fisik warga binaan tetap prima. Pihak rutan melakukan pengecekan mendetail terhadap pola makan, mulai dari proses pengolahan hingga distribusi makanan sahur dan berbuka. Higienitas menjadi harga mati guna mencegah penyakit pencernaan, sekaligus memastikan bahwa mereka yang memiliki kondisi medis khusus mendapatkan penanganan ekstra selama berpuasa.
Selain aspek fisik, progres pembinaan mental dan spiritual juga menjadi poin krusial yang dievaluasi. Kepala Rutan memantau sejauh mana warga binaan aktif mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan, seperti tadarus Al-Quran dan salat tarawih berjamaah. Evaluasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa momentum Ramadhan benar-benar dimanfaatkan oleh warga binaan sebagai sarana refleksi diri dan pertobatan yang tulus.
Dalam keterangannya, Fitri Yady menegaskan bahwa bulan Ramadhan adalah momentum emas untuk memperbaiki diri. Beliau menjelaskan bahwa melalui "Sapa Kasih", Rutan Baturaja ingin menjamin bahwa hak-hak dasar manusia tetap terpenuhi meski kebebasan mereka sedang dibatasi. Kehadiran petugas di tengah-tengah mereka diharapkan dapat memberikan kekuatan moral agar warga binaan tetap teguh menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk.
Hal yang paling menarik dari kegiatan ini adalah dibukanya ruang aspirasi tanpa sekat. Sesi dialog ini menjadi wadah bagi warga binaan untuk menyampaikan keluhan, mulai dari fasilitas kamar hingga saran mengenai menu makanan. Semua masukan ditampung secara langsung oleh pimpinan, yang mana langkah ini dinilai sangat efektif untuk meredam potensi gangguan keamanan dan ketertiban akibat adanya rasa ketidakpuasan yang terpendam.
Secara psikologis, kehadiran pimpinan yang mau mendengar memberikan dampak yang sangat signifikan bagi ketenangan batin warga binaan. Mereka merasa tetap dimanusiakan dan dianggap sebagai bagian dari masyarakat yang sedang berproses menjadi lebih baik. Rasa dihargai inilah yang menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas keamanan di dalam Rutan, karena komunikasi dua arah yang sehat telah terbangun dengan baik.
Sebagai penutup, program "Sapa Kasih" ini membuktikan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan kini telah bertransformasi ke arah yang lebih empati. Dengan memadukan ketegasan aturan dan kelembutan pendekatan personal, Rutan Kelas IIB Baturaja optimis dapat mencetak pribadi-pribadi baru yang siap kembali ke masyarakat dengan mentalitas yang lebih positif setelah masa Ramadhan dan masa tahanan berakhir.