Baturaja – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja terus menunjukkan komitmen nyata dalam menyukseskan program ketahanan pangan nasional di lingkungan pemasyarakatan. Langkah ini dibuktikan melalui aksi pemantauan langsung terhadap perkembangan pemanfaatan lahan produktif yang berada di dalam area Rutan Baturaja. Kegiatan peninjauan ini difokuskan untuk memastikan pengelolaan sarana asimilasi dan edukasi pertanian berjalan secara optimal dan terukur.
Peninjauan lapangan tersebut dilaksanakan secara menyeluruh oleh jajaran pejabat struktural Rutan Kelas IIB Baturaja pada Rabu, 16 September 2026. Kehadiran jajaran pimpinan rutan di tengah area pertanian internal ini bertujuan untuk mengawasi secara langsung proses perawatan, perkembangan bibit, hingga kesiapan sarana pendukung pertanian yang dikelola bersama oleh petugas dan warga binaan pemasyarakatan.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk tindak lanjut dan respons cepat terhadap instruksi Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM / Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sumatera Selatan. Rutan Baturaja berkomitmen penuh untuk mengintegrasikan arahan pimpinan tinggi guna mengoptimalkan potensi sumber daya lokal serta mendukung program ketahanan pangan nasional dari dalam lembaga pemasyarakatan.
Area lahan produktif yang menjadi fokus pemantauan tersebut berlokasi sangat strategis, yakni tepat berada di kawasan depan blok hunian para warga binaan Rutan Baturaja. Pemilihan lokasi ini dinilai ideal karena memudahkan akses pergerakan warga binaan dalam merawat tanaman harian serta mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbuka hijau di dalam area lingkungan rutan agar lebih asri dan berdaya guna.
Di atas lahan tersebut, Rutan Baturaja menyiapkan dan membudidayakan berbagai jenis tanaman hortikultura dan sayur-sayuran segar yang memiliki nilai konsumsi tinggi. Komoditas unggulan yang dikembangkan antara lain tanaman terong, cabai, serta kangkung, yang dipilih karena masa tanamnya relatif singkat serta perawatannya sangat sesuai untuk pelatihan bercocok tanam pemula.
Proses pengelolaan lahan ini dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur melalui skema pembinaan kemandirian. Warga binaan yang memenuhi syarat asimilasi dilibatkan langsung mulai dari tahap pengolahan tanah, penyemaian bibit, pemupukan berkala, perawatan dari hama, hingga mekanisme pemanenan hasil pertanian di bawah pengawasan ketat petugas pemasyarakatan.
Melalui program ketahanan pangan ini, pengelola Rutan Baturaja mengupayakan agar hasil panen dari lahan produktif tersebut mampu menunjang dan menyuplai kebutuhan pangan secara mandiri di lingkungan internal rutan. Ketersediaan sayuran segar hasil bercocok tanam sendiri diharapkan dapat menambah asupan gizi harian yang berkualitas bagi seluruh penghuni Rutan Baturaja.
Lebih dari sekadar memproduksi bahan pangan, kegiatan ini dirancang sebagai sarana edukasi dan pembekalan keterampilan (skill) bagi para warga binaan. Keterampilan praktis di bidang pertanian dan hortikultura ini diharapkan menjadi bekal kemandirian yang berharga bagi warga binaan ketika selesai masa pidana dan kembali berbaur dengan masyarakat kelak.