BATURAJA – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Masjid Baitul Ghafur yang berada di dalam lingkungan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja pada Jumat (29/05/2026). Kepala Bidang Perawatan, Pengamanan, dan Kepatuhan Internal Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sumatera Selatan, Bapak Effendi, hadir secara langsung untuk melakukan kunjungan kerja sekaligus monitoring. Kehadiran pejabat wilayah ini membawa misi penting untuk memberikan pengarahan mendalam serta penguatan mental spiritual bagi para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Dalam pelaksanaan kegiatan monitoring yang krusial ini, Kabid Perawatan, Pengamanan, dan Kepatuhan Internal Kanwil Ditjenpas Sumsel didampingi langsung oleh Kepala Rutan (Karutan) Baturaja, Fitri Yady beserta jajaran strukturalnya. Sinergi antara pimpinan wilayah dan kepala satuan kerja ini sengaja dilakukan untuk memastikan bahwa program pembinaan kepribadian, khususnya di bidang keagamaan, berjalan dengan optimal. Kehadiran para pimpinan ini juga menjadi bukti nyata kepedulian institusi terhadap masa depan psikologis para warga binaan.
Langkah monitoring dan pemberian tausiyah keagamaan ini diambil sebagai bagian dari strategi pendekatan persuasif yang humanis di lingkungan pemasyarakatan. Pihak Ditjenpas Sumsel menyadari bahwa pembinaan fisik dan keamanan saja tidak cukup tanpa menyentuh sisi rohani para warga binaan. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang khusus untuk membangun kembali benteng moral, memulihkan kesehatan mental, serta menumbuhkan kesadaran diri yang tulus agar para WBP tidak merasa terisolasi dari nilai-nilai kemanusiaan.
Agenda utama yang berpusat di tempat ibadah Rutan Baturaja tersebut dikemas secara menarik dalam bentuk dakwah keagamaan, sehingga mampu mencairkan suasana kaku yang biasanya melekat pada institusi pemasyarakatan. Selama acara berlangsung, ratusan warga binaan duduk bersila dengan khusyuk mendengarkan setiap bait ceramah yang disampaikan. Metode pendekatan melalui mimbar agama ini dinilai jauh lebih efektif dalam menyerap aspirasi rohani dan menyentuh hati sanubari para narapidana dibandingkan dengan teguran formal.
Dalam untaian tausiyahnya yang mendalam di hadapan para jamaah, Bapak Effendi menekankan betapa pentingnya menjaga keteguhan hati dan keikhlasan selama menjalani masa pidana atau pembinaan. Beliau mengajak seluruh warga binaan yang hadir untuk selalu meresapi makna hakiki dari kalimat tauhid, Lailahaillallah. Menurutnya, kalimat suci tersebut tidak boleh sekadar diucapkan di bibir, melainkan harus tertanam kuat sebagai jangkar spiritual utama agar mereka tetap memiliki arah hidup yang jelas dan senantiasa berserah diri kepada Sang Pencipta dalam kondisi seberat apa pun.
Lebih dari sekadar memberikan siraman rohani, Bapak Effendi juga menggunakan kesempatan berharga ini untuk memotivasi dan membakar kembali semangat hidup para warga binaan yang mungkin sempat pudar akibat jeratan hukum. Dengan gaya penyampaian yang santun namun tegas, beliau mengingatkan seluruh hadirin bahwa tidak ada satu pun manusia di atas bumi ini yang luput dari kesalahan, masalah, ataupun cobaan hidup yang berat. "Setiap manusia pasti memiliki masalah dan cobaan masing-masing. Yang paling utama adalah bagaimana kita menyikapinya dengan bijak," ujar Effendi dengan nada penuh empati.
Beliau kembali menambahkan dan menegaskan bahwa ujian hidup berupa kurungan jeruji di dalam Rutan bukanlah akhir dari segala-galanya bagi perjalanan hidup mereka. Sebaliknya, masa-masa penahanan ini harus dipandang sebagai momentum emas untuk berbenah diri, mengevaluasi total kesalahan masa lalu, dan menempa mentalitas baru. Harapan besarnya adalah agar ketika masa hukuman mereka selesai nanti, para warga binaan ini dapat melangkah keluar pintu gerbang Rutan sebagai pribadi baru yang jauh lebih baik, religius, dan siap memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Merespons kunjungan strategis tersebut, pihak Rutan Kelas IIB Baturaja menyambut baik dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas perhatian besar yang diberikan oleh jajaran Kanwil Ditjenpas Sumsel. Pendekatan persuasif berbasis keagamaan seperti ini diakui sangat membantu pihak Rutan dalam menjaga kondusifitas keamanan serta stabilitas emosional para WBP. Kegiatan monitoring dan dakwah keagamaan ini kemudian diakhiri dengan sesi doa bersama yang berlangsung penuh haru, di mana tampak beberapa warga binaan tak kuasa menahan tetesan air mata penyesalan sekaligus harapan baru.