BATURAJA – Gema takbir dan selawat yang berkumandang dari Masjid Baitul Ghafur menandai dimulainya suasana syahdu di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Baturaja pada Minggu malam (23/02/2026). Ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tampak berbondong-bondong memadati area masjid dengan wajah yang penuh kekhusyukan. Di bawah temaram lampu, mereka merapatkan barisan, membasuh diri dengan wudu, dan bersiap menjemput berkah di malam-malam awal bulan suci Ramadan 1447 H.
Kegiatan ibadah salat Isya dan Tarawih berjamaah ini menjadi momentum yang sangat dinantikan oleh para penghuni rutan. Meskipun ruang gerak mereka dibatasi oleh jeruji besi, namun semangat untuk menjalankan rukun Islam tidak luntur. Sejak petang hari, persiapan telah dilakukan secara gotong royong oleh para warga binaan, mulai dari membersihkan area masjid hingga menyiapkan sarana ibadah, menciptakan suasana yang kental dengan nilai-nilai religius.
Ada pemandangan yang menambah kekhidmatan malam itu ketika Kepala Rutan (Karutan) Baturaja, Fitri Yadi, hadir secara langsung di tengah-tengah warga binaan. Tanpa ada sekat protokol yang kaku, ia melepaskan atribut jabatan sejenak untuk bersimpuh di saf yang sama dengan mereka. Kehadiran pemimpin Rutan dalam jamaah ini bukan sekadar rutinitas formal, melainkan bentuk dukungan moral yang nyata bagi mereka yang sedang berupaya memperbaiki diri.
Keputusan Fitri Yadi untuk ikut melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah di Masjid Baitul Ghafur bertujuan untuk memberikan energi positif bagi para penghuni. Baginya, Ramadan di dalam lembaga pemasyarakatan harus menjadi momentum untuk memanusiakan manusia. Ia meyakini bahwa pendekatan spiritual jauh lebih efektif dalam mengubah perilaku seseorang dibandingkan dengan sekadar penerapan aturan disiplin yang ketat dan kaku.
"Kami di sini adalah keluarga besar. Melalui salat berjamaah ini, kami ingin menunjukkan bahwa proses pembinaan bukan hanya soal aturan administratif, tapi soal menyentuh hati. Saya ingin mereka merasa didampingi dan tidak merasa sendirian dalam proses perbaikan diri menuju jalan yang lebih baik," ujar Fitri Yadi dengan nada penuh empati usai pelaksanaan salat.
Setelah rangkaian salat Tarawih dan Witir selesai, kegiatan tidak lantas berhenti. Banyak warga binaan yang memilih untuk bertahan di masjid guna melanjutkan ibadah dengan tadarus Al-Qur’an. Suara lantunan ayat suci yang bersahutan menciptakan atmosfer layaknya di pesantren. Cahaya lampu Masjid Baitul Ghafur seolah menjadi mercusuar harapan bagi mereka yang menyimpan rindu mendalam akan rumah dan keluarga di luar sana.
Program pembinaan kepribadian berbasis religi ini rencananya akan terus dilaksanakan secara intensif selama satu bulan penuh selama Ramadan. Pihak Rutan Baturaja telah menyusun jadwal rutin yang meliputi kajian keislaman, bimbingan baca tulis Al-Qur'an, hingga lomba-lomba keagamaan. Hal ini dilakukan agar waktu luang para warga binaan terisi dengan hal-hal produktif yang dapat menguatkan mental spiritual mereka.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Rutan Kelas IIB Baturaja berharap dapat mencetak pribadi-pribadi baru yang lebih religius dan berakhlak mulia. Harapan besarnya adalah saat mereka bebas nanti, para warga binaan sudah memiliki bekal spiritual yang cukup untuk kembali berbaur dengan masyarakat dan tidak lagi mengulangi kesalahan masa lalu. Ramadan di balik jeruji pun akhirnya berubah menjadi kawah candradimuka bagi perubahan jiwa yang hakiki.